In Memoriam: Pater John Jawa O.Carm dan Sebungkus Kenangan - Graha Budaya
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

In Memoriam: Pater John Jawa O.Carm dan Sebungkus Kenangan

Pater John Jawa, O.Carm.

GRAHA BUDAYA -- Ordo Karmel Indonesia kembali berduka. Pater Yohanes don Bosco Jawa, O.Carm  telah berpulang. Pater John meninggal di usia 50 tahun.

Pastor kelahiran Bajawa, Ngada ini menghembuskan napasnya yang terakhir di RSPN Malang, 1 Maret 2022 lalu.

Pater John menjalani perawatan diduga akibat terpapar COVID-19 sepulang dari acara Kapitel Ordo Karmel Indonesia di Sumatra Utara, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Jumlah Umat Katolik Dunia Tahun 2022 Tembus 1,39 Miliar Orang

Dia menjalani perawatan hanya beberapa jam saja karena baru masuk pada 1 Maret pukul 08.38 WIB, tetapi pada pukul 00.00 malam sudah dinyatakan meninggal.

Pater John juga diketahui memiliki penyakit bawaan yaitu gagal ginjal. Penyakit kritis tersebut dideritanya sejak beberapa tahun lalu sewaktu masih bertugas di Maumere.

Akibat penyakit tersebut, Pater John harus cuci darah setiap minggu. Otoritas Ordo Karmel mengantisipasinya dengan memindahkan Pater John ke Malang agar bisa menjalani perawatan lebih intensif.

Sungguh berat memang. Tapi selama perawatan Pater John masih terlihat sangat sehat dan energik seperti biasa ditunjukannya ketika masih di Maumere.

Baca juga: Akan Pensiun Setelah 24 Tahun Jadi Uskup Agung Kupang, Inilah Profil Mgr Petrus Turang

Dia juga sempat mengajar Bahasa Latin di Postulan Stella Maris Batu, Malang.

Jenazah Pater John telah dikebumikan di Pemakaman Kristen Sukun, Malang pada 2 Maret sekitar pukul 17.00 WIB.

Kepergian Pater John meninggal duka yang mendalam bagi Ordo Karmel. Terutama bagi orang-orang yang pernah dilayaninya.

Pater John ditahbiskan menjadi imam pada tahun 2000 setelah menyelesaikan studi Filsaafat dan Teologi di STFT Widya Sasana Malang. Setelah tahbis, dia langsung berangkat ke Maumere, Flores.

Di sana dia diberi tugas sebagai Socius Magister di Wairklau. Setahun di sana, dia diberi waktu untuk studi lanjut ke Jerman.

Satu dekade kemudian, Pater kelahiran 17 Februari 1972 ini diangkat menjadi Prior Biara Karmel Beato Dionisius Wairklau Maumere selama dua periode, yaitu pada tahun 2009-2012 dan 2012-2015.

Setelah itu, dia diangkat menjadi Komisaris Ordo Karmel Indonesia Timur pada tahun 2015-2018. Setelah itu, dia jatuh sakit dan mulai mengurangi jam pelayanannya.

Di samping menjalani tugas pembinaan bagi para frater Karmel, Pater John juga sempat mengajar di STFK Ledalero Maumere. Dia dipercayakan mengampu mata kuliah Psikologi Pastoral mulai tahun 2008.

Ini persis ketika dia baru saja selesai studi Psikologi Pastoral di Mainz, Jerman yang dimulai pada tahun 2001.

Banyak mahasiswa yang suka dengan gaya mengajarnya di kelas. Tidak heran jika kelasnya selalu membludak.

Selain terkenal dengan gaya retorisnya yang kental khas jebolan Jerman, Pater John juga tidak "kikir" nilai. Asal kerjakan tugasnya dengan baik, sudah pasti dapat nilai A.

Selain di STFK Ledalero, pendidikan calon imam terbesar di dunia, Pater John juga mengajar di  Universitas Nusa Nipa (Unipa) Indonesia, Maumere.

Banyak mahasiswa Unipa yang juga terkesan dengan kebaikannya. Gaya mengajarnya membuat mahasiswa tertarik.

Selain itu, Pater John juga mendirikan Pondok Layanan Remaja Arche Noach Maumere selama masih di Maumere.

Di benak orang-orang yang dilayaninya, Pater John dikenang sebagai orang yang baik. Sementara di memori para frater, dia dikenang sebagai pimpinan yang disiplin, tegas dan namun suka basa-basi.

Dia tidak suka para frater terlambat masuk kapela untuk berdoa. Tetapi di sisi lain, dia tidak terlalu begitu sibuk dengan para frater. Bukannya tidak peduli, tetapi dia tidak mau merepotkan urusan privasi para frater.

Beberapa kata-kata yang menjadi ciri khas keluar dari mulutnya adalah "injak", "handel", "sikat", dan lain-lain. Di rumah Wairklau, para frater memanggilnya dengan sebutan Jojon, ungkapan plesetan dari nama Joni Jawa.

Ini menjadi kebiasaan di antara para frater Karmel dari generasi ke generasi yang selalu menyebut para romonya (tidak hanya Pater John) dengan istilah tertentu. Misalnya,  Joko, Jebol, Madam, Yongki, dll.

Ini juga merupakan "kode rahasia" para frater yang hampir tidak diketahui para imamnya. Kode-kode ini juga dilekatkan pada beberapa barang tertentu, misalnya "rosario".

Semua kode ini sebetulnya lahir dari keakraban dan kehangatan persaudaraan di Ordo Karmel yang begitu kental dan khas.

Kembali ke Pater John. Selama menjadi imam, Pater John juga jarang bahkan hampir tidak pernah mengenakan celana pendek. Dia selalu memakai jeans dan rapi.

Barangkali dialah satu-satunya imam Karmel di Maumere yang terkenal sangat rapi. Karena beberapa imam lainnya biasanya berpenampilan sangat sederhana.

Dan yang tidak lupa untuk dikenang adalah Pater John juga dikenal sebagai pengkotbah yang bagus. Tanpa teks dan retoris. Ini menunjukkan kecerdasannya.

Bahkan menurut tulisan Romo Ino Ino, O.Carm, ketika belajar di Jerman, Pater John bisa berkotbah tanpa teks dalam bahasa Jerman dengan fasih.

Banyak umat yang dilayaninya di sana begitu terpukau dengan kotbahnya dan mereka mengenanganya selalu hingga kini.

Memang semuanya tinggal kenangan. Ibarat, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Itulah Pater John.

Semoga Tuhan senantiasa melapangan jalan-Nya menuju keabadian bersama Putra-Nya di Surga.*

Posting Komentar untuk " In Memoriam: Pater John Jawa O.Carm dan Sebungkus Kenangan "