Ketika Wisuda dan Acara Pesta Syukuran Mahasiswa Unipa Dikritik - Graha Budaya
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Wisuda dan Acara Pesta Syukuran Mahasiswa Unipa Dikritik

Wisuda Unipa Maumere, Jumat (25/3).

GRAHA BUDAYA -- Pada Jumat (25/3) lalu, Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, mewisuda 428 sarjana dan diploma angkatan ke-XVI tahun akademik 2021/2022.

Wisuda digelar di Aula Nawacita yang dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Nusa Nipa, Angelinus Vincentius.

Dalam periode ini, Unipa Maumere mewisuda 428 mahasiswa. Pelaksanaan wisuda dilakukan secara tatap muka dengan menerapkan protokol COVID-19 yang ketat.

Baca juga: Tragis, Pengacara Muda di Nagekeo Dibunuh Kakak Sepupu yang Lalu Bunuh Diri

Wisuda periode pertama telah dilakukan pada tanggal 2 Oktober 2021 namun dilakukan secara online karena masih dalam masa pandemi COVID-19.

Hadir dalam acara wisuda antara lain Rektor Unipa dan jajaran senat Unipa, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Nusa Nipa  Sabinus Nabu, Direktur Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kemenristekdikti Lukman, Wakil Bupati Sikka Romanus Woga, Badan Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa, Forkopimda dan tamu undangan.

Rektor Unipa Angelinus mengatakan, Unipa Maumere dalam usia ke-16 telah menghasilkan 5.625 lulusan sarjana dan diploma. Para lulusan kini telah menekuni berbagai profesi termasuk berwirausaha.

Baca juga: Max Weber Sebut Orang Flores Punya Bakat Musik Lebih Tinggi dari Suku Lain di RI

“Kami ucapkan selamat kepada para wisudawan. Semoga ilmu yang telah diperoleh dapat dikembangkan ditengah masyarakat untuk kebaikan bersama. Semoga mendapatkan berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa,” katanya.

Dia mengatakan, menurut Webometrics 2022 Unipa Maumere masuk dalam sepuluh kampus terbaik dari 60 PTN dan PTS se-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada orangtua/wali yang telah mempercayakan putra putri terbaiknya untuk mengenyam pendidikan di Unipa," ucapnya.

Di tengah euforia para mahasiswa merayakan keberhasilan mereka menyelesaikan pendidikan tinggi, muncul kritik dari sejumlah orang di media sosial.

Mereka mengeritik para mahasiswa yang merayakan acara syukuran wisuda, satu hal yang umumnya dilakukan setiap orang.

Mereka juga secara sinis mengatakan bahwa dengan selesainya pendidikan tinggi di Unipa maka angka pengangguran di Sikka akan makin banyak di tengah pandemi ini.

Baca juga: 10 Orang Hebat Rote yang Mengharumkan Nama NTT di Kancah Nasional dan Dunia

Tidak berhenti di sana. Mereka juga menyindir para mahasiswa yang berjuang menyelesaikan pendidikan tinggi dengan mengutang tetapi sayangnya ketika diwisudah utang makin membengkak karena harus menggelar acara syukuran.

Ada banyak kritik lain yang umumnya menyudutkan dan menganggap bahwa pendidikan tinggi dan acara syukuran bukanlah hal yang penting.

Bagi sebagian pengkritik, tidak penting menggelar acara syukuran wisuda. Karena yang penting adalah syukuran ketika sudah berhasil mendapatkan pekerjaan. Contohnya ketika lolos CPNS, dan lain-lain.

Sebaliknya, ada beberapa kelompok orang yang tidak menyetujui kritikan dan sindiran arkais kelompok yang menyerang para mahasiswa. Menurut mereka, pendidikan tinggi bukanlah perkara mudah. Karena tidak semua orang bisa sampai ke tahap itu.

Selain itu, acara syukuran wisuda merupakan hak setiap orang yang tidak dipaksakan. Itu lahir dari kesadaran bahwa setiap keberhasilan kecil dalam hidup patut disyukuri. Lagipula, ini merupakan kebiasaan yang lumrah dilakukan setiap orang.

Kelompok pro memandang sangat positif. Mereka melihat bahwa ada kelompok-kelompok tertentu yang ingin menjatuhkan semangat dan motivasi para mahasiswa.

Soal penganggguran, memang akan terjadi peningkatan karena menyempitnya lapangan pekerjaan di Sikka dan kabupaten lain di NTT. Tidak jarang, beberapa lulusan harus menganggur bertahun-tahun.

Beberapa lainnya bekerja sebagai guru honor dan tenaga kesehatan sukarela yang digaji atau dibayar 3 atau 6 bulan sekali dengan nominal yang sangat kecil. Boleh dibilang hanya untuk beli pulsa.

Sebagian lainnya memilih mencari pekerjaan di daerah lain di luar NTT, seperti ke Papua, Makassar, Jawa, atau Kalimantan.

Memang tidak mudah bagi lulusan baru di kampus-kampus di NTT. Kurangnya link and match dengan dunia kerja membuat para lulusan harus menepi bertahun-tahun dari dunia kerja. Ini sesuatu yang ironi karena mereka telah membayar kuliah hingga puluhan juta, termasuk dengan mengutang.

Percakapan publik di media sosial tentu menjadi informasi dan masukan bagi pemangku kepentingan, baik itu kampus ataupun pemda, agar membangun link and match antara kampus dengan dunia kerja.

Menyempitnya lapangan pekerjaan di NTT salah satunya karena minimnya investasi yang masuk. Sebetulnya ada banyak investasi yang ingin masuk, tetapi terkadang terbentur dengan gerakan progresif di masyarakat yang masih memandang investasi dan kemajuan sebagai cara untuk merusak alam, budaya dan manusia.

Akses modal juga menjadi faktor yang menghambat kreativitas dan inovasi anak-anak muda untuk menekuni dunia usaha.

Apa yang terjadi di Sikka merupakan fenomena baru yang terjadi di NTT. Bahwa publik semakin memandang bahwa pendidikan tinggi tidak lagi penting. Yang terpenting adalah cara menghasilkan uang baik lewat pekerjaan formal maupun informal.

Logika publik ini sebetulnya terjebak dalam arus pemikiran materialisme. Bahwa setiap orang harus mengejar pendapatan yang layak hanya lewat pekerjaan. 

Padahal, pendidikan membantu orang untuk berpikir kritis, memperluas wawasan dan perspektif nilai tentang pekerjaan. Bahwa pekerjaan tidak semata-mata untuk menghasilkan uang, tetapi juga sarana untuk mengaktualisasikan potensi diri.

Ini dimensi kualitatif dari pekerjaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki pendidikan yang "bagus".*

Posting Komentar untuk "Ketika Wisuda dan Acara Pesta Syukuran Mahasiswa Unipa Dikritik"