Menurut Hasil Autopsi RS Bhayangkara, Ini Penyebab Kematian Astri dan Lael - Graha Budaya
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menurut Hasil Autopsi RS Bhayangkara, Ini Penyebab Kematian Astri dan Lael


GRAHA BUDAYA -- Pada 30 Oktober 2021, Rumah Sakit Bhayangkara Titus Ully Kupang melakukan autopsi terhadap jasad ibu dan anak korban pembunuhan di Kupang Astri Manafe dan Lael Maccabbee.

Autopsi dilakukan setelah jasad kedua korban ditemukan di lokasi penggalian pipa SPAM Kali Dendeng, Penkase, Kecamatan Alak, pada sore hari yang sama.

Jasad kedua korban ditemukan oleh sopir dan kondektur ekskavator yang sedang melakukan pengerjaan di TKP. Perkara pertama kali langsung ditangani Polsek Alak.

Baca juga: Bukan Agustus, Astri dan Lael Diduga Dibunuh pada Awal Oktober 2021

Hasil autopsi menyebutkan bahwa penyebab kematian kedua korban bukan karena benturan di kepala, melainkan karena kehabisan oksigen. Kedua korban diduga dibekap menggunakan tangan.

Korban Astri diduga terlihat perkelahian dengan pelaku yang ditandai dengan luka yang ada di tangan kiri yang diperkirakan akibat dari adanya perlawanan.

Terdapat pula memar di kepala bagian kiri terdapat resapan darah namun tengkorak  kepala tidak pecah/retak. Kemungkinan kekerasan menggunakan tangan kosong.

Baca juga: Keterangan Saksi Berubah, Dugaan Rekayasa Kasus Astri dan Lael Makin Jelas

Pada bagian dahi mengalami memar, terdapat luka di pelipis kiri, dan memar pada bagian wajah sebelah kiri. 

Ini diduga akibat dekapan dan kekerasan di wajah diperkirakan menggunakan tangan karena gigi masih utuh.

Pada bagian rusuk bawah (bagian ketiak) sebelah kiri terdapat memar dan penumpukan darah diduga akibat kekerasan.

Kemudian pada bagian tangan kiri (punggung tangan) terdapat luka, diduga korban sempat melakukan perlawanan.

Sementara untuk Lael, meninggal diduga karena dibekap menggunakan telapak tangan. Ada kekerasan di kepala mengakibatkan tempurung kepala pecah tidak beraturan dan terdapat resapan darah pada tulang tengkorak.

Pada kuku Lael berwarna kebiruan disebabkan kekurangan pasokan oksigen sehingga diperkirakan meninggal bukan karena benturan di kepala melainkan karena kehabisan oksigen (dibekap).

Hasil autopsi juga menyebutkan bahwa korban diduga dibunuh pada awal Oktober 2021, bukan pada Agustus 2021 sebagaimana keterangan tersangka Randy Badjideh ke penyidik Polda NTT.

Dalam keterangan kepada penyidik, Randy mengatakan korban dicekik di dalam mobil Rush pada 27 Agustus 2021. Baru pada 31 Agustus dia menguburkan kedua korban.

Dokter forensik RS Bhayangkara menduga peristiwa pembunuhan kedua korban terjadi 1-3 minggu sebelum ditemukan.

Hal ini sesuai dengan alat bukti yang ada, bahwa pada saat penemuan jasad kedua korban, Polsek Alak mengatakan bahwa pakaian kedua korban masih terdapat darah.

Beberapa hari setelah itu, penyidik menjemur pakaian kedua korban untuk dikeringkan.*

2 komentar untuk " Menurut Hasil Autopsi RS Bhayangkara, Ini Penyebab Kematian Astri dan Lael"

  1. Kasihan saudara saya dan ponakanku tuhan bersamamu Randy harus diesekusi mati

    BalasHapus
  2. Manusia TDK punya hati nurani ,,,penjara seumur hidup

    BalasHapus