Forum Pemuda NTT Jakarta Amankan 5 Perempuan NTT Diduga Korban Trafficking - Graha Budaya
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Forum Pemuda NTT Jakarta Amankan 5 Perempuan NTT Diduga Korban Trafficking

Korban trafficking di Tangerang.

GRAHA BUDAYA -- Forum Komunikasi Putra-Putri NTT (FPP NTT) dan Forum Pemuda (FP) NTT di Jabodetabek bekerja sama dengan Badan Penghubung NTT mengamankan atau menyelamatkan 5 perempuan asal NTT di Tangerang.

Kelima perempuan tersebut diduga merupakan korban human trafficking yang dilakukan oleh PT Setia Prestasi Amandiri (SPA) di Tangerang, Banten, Jumat (1/4).

Mereka adalah  NY (20) dan SY (20) yang direkrut MYL;  OL (25) dan CMB (27) direkrut BB; dan MHM (21) direkrut JBD.

Baca juga: Kejati NTT: Potensi Adanya Tersangka Baru akan Terungkap di Persidangan Randy

Bersama dengan kelima korban asal NTT, Forum Pemuda NTT Jakarta juga berhasil mengamankan dua perempuan asal Jawa Tengah dan satu perempuan asal Lampung.

Dari warga Lampung: YO (25) direkrut D; sedangkan dari warga Jawa Tengah : LS (34) direkrut I, dan NH (40).

Saat ini, mereka diamankan sementara di Kantor Penghubung NTT Jakarta.

Baca juga: Tabernakel dan Hosti Sebuah Gereja di Chili Dinodai Orang Tak Dikenal

Menurut para korban, perekrutan dilakukan oleh pihak ketiga (atau calo) yang sudah ditugaskan di lapangan.

 Korban berinisial E (NTT) mengatakan dia mendapat informasi lowongan pekerjaan itu dari Facebook.

Katanya, akun Facebook itu bernama 'Info Lowongan Maumere'.

Menurutnya, lowongan pekerjaan itu diposting oleh Marlin. Dimana, diakun FB inilah, mereka berdua melakukan perkenalan dan membahas kelanjutan pekerjaan itu. Marlin berasal dari Kabupaten Maumere, Provinsi NTT.

Melalui via inbox Facebook tersebut, akhirnya mereka berdua bersepakat untuk bertemu dan membicarakan atau menyelesaikan semua administrasi yang ditentukan.

"Saya dapat informasinya itu tuh lewat grup (Facebook). Grup bernamanya itu 'Info Lowongan Pekerjaan Maumere' punya. Terus, saya lihat itu ada postingan dari Kaka Marlin cari pekerjaan yang begitu. Jadi, saya langsung inbox ke Kaka Marlinnya, lewat facebook," ujar dia.

"Selanjutnya diinbox itu, Kaka Marlin suruh langsung urus memang surat-suratnya, berkas-berkasnya. Jadi, semua berkas-berkas itu saya sudah urus. Terus, nanti apa ni, dia suruh chat saya ketemuan. Iya, saya bilang, saya ada di Maumere ini. Jadi, dia bilang nanti saya jemput. Saya kasih lokasinya itu tuh. Dia datang jemput saya untuk kerumahnya dulu, nanti dibicarakan bagaimana-bagaimana selanjutnya toh! Nanti serahkan dengan berkas-berkas yang  saya sudah urus itu," katanya. 

"Kan, dia omongnya kontrak kerjanya selama dua tahun. Kan ada pilihannya toh ada babby syster,  Nanny, ART dengan Jaga Lansia.  Jadi, saya pilih ke Nanny atau rawat anak begitu," bebernya. 

"Datang sampe disini, kan belum pendidikan jadi kami kasi tau ke orang kantor (PT SPA), kami bilang kami pilihnya Nanny. Terus, mereka bilang Nanny ini pendidikannya lama nanti sampe berbulan-bulan. Kalau kalian belum bisa, diulang-ulang sampe dua tiga bulan. Kan, kalian datang ke sini mau kerja bukan mau pendidikan yang lama-lama begitu," cerita dia.

Perlu diketahui, PT SPA merupakan sebuah pusat pelatihan dan penempatan tenaga kerja dalam negeri. 

PT ini bergerak dibidang Babysitter (perawat bayi), Nanny (perawat anak), Elderlycaretaker (Perawat Lansia), dan Asisten Rumah Tangga (ART), Jl. Kucica XVI JF 18 No.17 Sek. 9 Bintaro Jaya Kota Tangerang Selatan, Banten. 

Korban melanjutkan bahwa PT SPA meminta mereka mengambil pekerjaan lain, yang telah tercantum di dalam daftar list itu.

"Jadi, kami sarankan kalian ke ART," katanya.

Mengingat mereka membutuhkan pekerjaanya, maka dengan terpaksa, korban menerima pekerjaan (ART) itu.

"Jadi, kami kayak tertekan maksa. Ini kan, dari sananya bilang pendidikannya maksimal 3 minggu. Kenapa sampai disini bilangnya pendidikan sampai berbulan-bulan. Jadi,  kami tertekan sampai disitu. Ini mau datang kerja atau datang pendidikan sampai berbulan-bulan begini," curhat dia. 

Menurut dia, tinggal di PT SPA bagaikan penjara yang tak bebas. Diperlakukan tidak enak atau tidak nyaman dan tidak manusiawi.

"Tinggalnya di dalam juga kayak  penjara begitu. Kami tidak bisa keluar, membeli makan saja; kayak mau beli roti saja, kami kasih uang lewat jendela. Yang penjual roti saja kasih kami roti lewat jendela. Tidak ada kebebasan, kayak keluar-masuk, mau keluar ke jalannya saja tidak bisa, tidak diperbolehkan, semuanya dikunci," ucapnya.

Ia mengatakan, awal perjanjian di lokasi perekrutan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan (PT SPA). Menurutnya, gajinya pun dipotong oleh pihak PT itu.

"Janjinya itu tuh, gajinya itu tuh kalau untuk Nanny itu 2,4 juta," katanya.

"Nanti datang pendidikan disini selama 3 minggu, nanti pemotongannya itu satu bulan 1 juta. Soalnya pendidikannya 4 juta lebih," sambungnya.

Ia mengatakan, jika majikan sudah memberikan gaji maka gajinya akan dipotong selama beberapa bulan.

"Kalau sudah dapat gaji, bulan pertama dan keduanya itu nanti dimasukan ke rekening PT punya. Kalau sudah selesai dengan kontrakan baru (mereka akan bekerja selama  dua tahun) dikasih," tambahnya. 

Korban berinisial MHM mengatakan, ia direkrut dengan iming-iming menjadi perawat anak dengan gaji yang dijanjikan di awal sebanyak Rp2,4 juta. Namun di lokasi atau tempat pekerjaan, korban hanya terima uang cuti sebesar 200 ribu.

"Saya sebagai perawat anak, Nanny. Di sini Rp2,4 juta juga. Hanya gaji pertama, bulan pertama dan kedua dititip di PT hanya terima uang cuti 200," sebutnya.

Korban berniat keluar dari perusahaan ini, karena ia menilai pekerjaan yang dijanjikan di Maumere tidak sesuai dengan apa yang direalisasikan oleh PT SPA.

"Majikan pertama, barusan 10 hari. Saya minta pulang karena pengaruh pekerjaannya tidak sesuai. Terus, saya kan perawat anak hanya dimajikan sana saya sebagai ART cuci mobil, sikat pintu gerbang. Pokoknya pekerjaan sebagai ART begitu," bebernya.

Ia membeberkan, pihak PT SPA tidak memberikan kebebasan untuk memegang handphone (Hp). Sedangkan sebagai perantau, ia rindu menghubungi keluarga di kampung. 

"Terus, saya minta pulang karena tidak sesuai. Baru, majikan suruh saya pegang Hp ni, dua minggu sekali satu jam. Saya mau kasih kabar ke orang tua, setengah mati," sebut dia.

Tidak hanya itu, ia dipaksa untuk memotong rambut.

"Majikan suruh saya harus gunting rambut, kasih pendek. Sedangkan, adat sana tidak boleh. Saya omong, hanya mereka pertahankan saya harus gunting rambut. Makanya, saya minta pulang, saya minta pulang. Saya cerita semuanya di orang PT hanya, mereka bilang mereka tidak percaya saya, mereka lebih percaya itu pengguna jasa (majikan)," tambah dia.

Korban dari Lampung (YO) yang sudah berkeluarga itu mengatakan, "Suami saya kan kerja di Jakarta, saya ikut kerja di Jakarta. Rencananya mau di Jakarta. Terus saya dapat kenalan di Facebook. Namanya Bu Lita. Dia orang Jakarta sini, Jakarta Timur. Dia bilangnya, saya ada job babby syster. Katanya langsung majikan." 

Dia mengatakan kronologi perekrutannya.

"Saya langsung dijemput, bilangnya langsung di majikan. Katanya, oh iya, yang majikan kemarin itu udah dapat pembantu. Terus dia bilang gimana. Ya udah, kamu ikut saya aja. Kemana Bu, saya ada yayasan, PT gitu. Ini enak kok. Gak perlu ini itu. Kamu juga cepat dapat kerja disana," sambungnya.

"Dia bilang gaji awalnya bisa sampai  Rp3 juta setengah sampai Rp4 juta, apalagi babby syster,"ujarnya.

Menurut dia, Delita (Lita) tidak menjelaskan lebih detail terkait PT SPA ini diawal perekrutan.

"Saya sudah datang ke tempatnya, udah dijemput dari kontrakan suami saya, dijemput ke tempat Bu Lita, saya diantarin ke PT SPA di Tangerang ini.

Sementara, Ketua FKPP NTT Banten Logo Vallenberg beserta jajarannya dan FP NTT di Jabodetabek Yohanes Ndale beserta jajarannya mengecam dugaan trafficking yang sering terjadi, yang dilakukan oleh sindikat teroganisasi ini.

Logo mengatakan, tindakan penyelamatan para korban tersebut merupakan sebuah tindakan kemanusiaan. 

Pihak FKPP NTT Banten dan FP NTT gerak cepat untuk mengamankan kedelapan korban itu. 

"Respon dan tindakan yang kami ambil itu adalah respon kemanusiaan, yang mana mau dilihat melanggar hukum atau tidak tapi yang jelas kemanusiaan itu, kita kedepankan," ujarnya.

Menurut dia, terjadi kekerasan fisik berupa kekerasan verbal; adanya Pembatasan Gerakan Pekerja; Jebakan hutang (individu bekerja sebagian atau secara eksklusif untuk melunasi hutang); menahan upah pekerja; adanya penipuan; adanya pelibatan calo liar dalam perekrutan; pemaksaan pembayaran tebusan pekerjaan, pemotongan gaji, dan lainnya.

Di meminta pihak penegak hukum atau lainnya segera menindaklanjuti kasus ini sesuai peraturan yang berlaku.

"Nantinya kalaupun ada proses hukum, kita serahkan ke pihak yang berwajib untuk menindak tegas pelaku-pelaku human trafficking ini. Kami dari FKPP NTT Banten, meminta untuk para pihak keamanan atau aparat sipil maupun aparat penegak hukum diminta untuk proses kembali perihal ini sehingga tidak terulang dilain waktu," harapnya.

Lebih lanjut, FKPP Banten dan FP NTT meminta pemerintah pusat sampai ke tingkat desa maupun RT/RW segera melakukan pengawasan lebih ketat terhadap calo/perekrutan liar yang sedang marak merajalela di seluruh Indonesia maupun di NTT itu sendiri. 

Kuasa hukum pihak FKPP NTT Banten dan FP NTT Jabodetabek sudah menyiapkan pleidoi untuk mempolisikan para pelaku-pelaku perekrutan maupun pihak PT SPA.*

Posting Komentar untuk "Forum Pemuda NTT Jakarta Amankan 5 Perempuan NTT Diduga Korban Trafficking"