Debat Sengit PH Ira dan Ahli Pidana di Sidang Praperadilan - Graha Budaya
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Debat Sengit PH Ira dan Ahli Pidana di Sidang Praperadilan

Ketua Tim PH Ira, Yance Messakh/PK.

GRAHA BUDAYA -- Putusan sidang praperadilan antara pemohon Ira Ua (IU) dan termohon Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah digelar kemarin, Kamis (19/5) di ruang Cakra Pengadilan Negeri Kupang dipimpin hakim tunggal, Derman Parlungguan Nababan.  

Derman Nababan memutuskan bahwa pemohon Ira Ua sah ditetapkan menjadi tersangka setelah mempelajar bukti-bukti dan keterangan para saksi.

Dalam sidang putusan praperadilan, Derman menyatakan bahwa dengan mempertimbangkan seluruh keterangan saksi, bukti-bukti keterangan saksi ahli maka dalil pemohon ditolak untuk seluruhnya.

Baca juga: PH Korban Desak Polda NTT Tahan Ira Ua Demi Kepastian Hukum

Hakim dalam pertimbangannya mengatakan, keberadaan bukti-bukti tersebut sudah memenuhi bukti yang cukup sesuai ketentuan hukum pidana (KUHAP).

"Maka penetapan tersangka tersebut sudah sah," kata Derman di Kupang.

Namun pada sidang praperadilan yang digelar di PN Kupang, Rabu 18 Mei 2022 dengan agenda pembuktian dari pihak Termohon (Polda NTT) terkait penetapan Ira Ua, sempat diwarnai perdebatan antara Penasihat Hukum (PH) Ira Ua dengan saksi Ahli Hukum Acara Pidana Polda NTT Mikael Feka.

Baca Juga: Praperadilan Ditolak, Ira Ua Sah Jadi Tersangka Kasus Penkase

Perdebatan terjadi di penghujung sidang. Dalam sidang itu, Polda NTT melontarkan beberapa pertanyaan supaya bisa dijelaskan oleh Mikael Feka. 

Pada kesempatan itu juga, Yance Thobias Messakh mendapatkan kesempatan bertanya kepada Mikael Feka. Dia meminta Mikael  menjelaskan bukti yang bisa menjerat orang menjadi tersangka.

"Tadi ahli menjelaskan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi saksi mendengar dari orang lain pun itu sebagai bukti. Nah, seandainya informasi atau keterangan yang diperoleh itu berdiri sendiri tidak didukung oleh bukti lain, apakah itu juga bisa dijadikan sebagai bukti untuk menjadikan seorang jadi tersangka?" tanya Yance kepada Mikael, dilansir Victory News.

Baca Juga: Keluarga Korban Minta Polisi Tangkap dan Tahan Ira Ua

Menanggapi hal itu, Mikael Feka menjawab bahwa saksi dikategorikan sebagai alat bukti. Begitupun dengan keterangan saksi yang satu dengan yang lainnya.

"Antara saksi satu dan saksi lain, penilaiannya sama sejenis alat bukti. Misalkan sekian saksi yang memberikan keterangan ada tidak korelasi yang bersesuaian atau tidak. Sehingga bisa dikatakan kualitas sebagai alat bukti. Begitupun keterangan saksi cocok tidak dengan keterangan alat bukti lain. Kalau itu cocok ya itu namanya kualitas," jelas Mikael.

Baca Juga: Remaja SMP di Kupang Dihamili Pacarnya, Kini Hamil 7 Bulan

PH Ira Ua lainnya, Beny Taopan pun menanyakan mengenai pasal 221 KUHP tentang Pengecualian.

Mikael pun langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Beny Taopan.

"Baik saya jawab, terkait dengan Pasal 221 KUHP itu kalau tidak salah ada tiga ayat, ayat satu ‘kan menyembunyikan pelaku, ayat dua menghilangkan barang bukti, ayat tiga pengecualian. Apabila itu dilakukan dalam hubungan perkawinan dan seterusnya tidak dapat dipidana,” paparnya.

Baca Juga: KM Sirimau Karam di Lembata, 2 Jenazah PMI Asal Ende Tertahan 3 Hari

Situasi ruangan sidang semakin panas karena muncul pertanyaan-pertanyaan yang memicu terjadi perdebatan antara PH Ira Ua dengan Ahli Pidana Polda NTT. 

Derman yang bertugas membaca amar putusan pra peradilan, empat menskorsing sidang tersebut dan ditunda ke Kamis, 19 Mei 2022.

“Sidang telah berakhir dan kita skors sampai Kamis, 19 Mei 2022 pukul 11.00 WITA, dengan agenda putusan majelis hakim," ungkapnya.*

Posting Komentar untuk "Debat Sengit PH Ira dan Ahli Pidana di Sidang Praperadilan"