Keluarga ABK Asal NTT yang Hilang di Perairan Mauritius Surati Paus Fransiskus - Graha Budaya
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keluarga ABK Asal NTT yang Hilang di Perairan Mauritius Surati Paus Fransiskus

Ilustrasi kapal.

GRAHA BUDAYA -- Keluarga anak buah kapal (ABK) yang hilang di perairan Mauritius, Afrika Selatan, pada Agustus 2021 lalu menyurati Paus Fransiskus di Vatikan.

Selain pimpinan tertinggi Gereja Katolik dunia tersebut, keluarga juga menyurati Presiden Mauritius. Surat itu dikirim pada 12 Mei 2022 melalui Direktur Lembaga Hukum dan HAM PADMA (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian) Indonesia.

Isi surat tersebut adalah meminta kedua pemimpin agar membantu mengadvokasi penanganan kasus kehilangan ABK tersebut.

Baca juga: Paus Fransiskus Sakit dan Tak Bisa Berjalan

Ada tujuh ABK asal Indonesia yang dilaporkan hilang dari kapal ikan Weifa asal Vietnam. 

Mereka adalah Rudi Herdiana (Brebes, 23 Mei 1988); Dadan (Ciamis, 20 Juli 1994); Petrus Crisologus Tunabenani (Covalima, NTT, 30 Juli 1994); Klaudius Ukat (Abat, 15 Februari 1997); M. Jafar Gali Chandra); Kusuma (Kebumen, 5 Februari 1996); dan Anton Pradana (Banyuwangi).

Enam buruh ABK menjadi kru di kapal ikan Wei Fa dan satu buruh ABK di Kapal De Hai. Kedua kapal itu berbendera Vietnam. 

Wei Fa disebutkan angkat jangkar dari dermaga Mauritius pada 26 Februari 2021 sebelum dinyatakan hilang di laut oleh aparat keamanan Mauritius.

Baca juga: Ira Ua Tidak Terlibat Namun Turut Serta dalam Kasus Penkase

Pada 2 Maret 2021, dengan segala dayanya aparat keamanan Mauritius berhasil menarik kembali kapal itu ke Ibu Kota Port Louis. 

Namun, 7 ABK WNI sudah tidak ditemukan di kapal tersebut. Hingga saat ini, peristiwa tersebut sudah terjadi satu tahun lebih, namun nasib tujuh ABK Indonesia tersebut tak kunjung jelas.

Adalah orangtua dari Petrus Crisologus Tunabenani dari Kabupaten Belu, NTT, yang mengirim surat kepada kedua pemimpin tersebut.

Gabriel Ulu Tunabenani, ayah korban, berasal dari Haliulun RT/RW 007/003 Kelurahan Fatubenao Kecamatan Kota Atambua Kabupaten Belu, NTT.

Baca juga: Viral Oknum Polwan di Kupang Ancam 'Injak Kasih Mati' Warga yang Rekam Razia Polisi

Dalam surat itu, dia meminta agar Paus memberikan imbauan kepada nahkoda dan para BK asal Vietnam di kapal ikan berbendera Taiwan, agar berbicara jujur kepada Kepolisian Mauritius.  

Kepolisian Mauritius saat ini sedang menangani perkara kasus hilangnya tujuh ABK asal Indonesia di perairan Mauritius.

Tujuh ABK WNI itu hilang di Perairan Mauritius, Afrika Selatan berdasarkan pernyataan Kepolisian Mauritius dengan surat No. OB.439/2021 dan No. 451/2021 post missing tanggal 24 Agustus 2021.

Sedangkan untuk Presiden Mauritius, dia meminta agar orang nomor satu di negara itu mendesak nahkoda dan para anak buah kapal (ABK) asal Vietnam di kapal ikan berbendera Taiwan, agar berbicara jujur kepada Kepolisian Mauritius.

Baca juga: Bantah Ayah Korban, Randy Sebut Biayai Kelahiran Lael

"Surat itu saya kirim pada 12 Mei 2022 lalu, melalui Direktur Lembaga Hukum dan HAM PADMA (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian) Indonesia, Gabriel Goa," ungkap Gabriel, kepada Kompas.com, pada Sabtu (28/5/2022) malam.

Gabriel sudah hampir setahun tak mendengar kabar tentang keberadaan anaknya yang bekerja sebagai ABK.

Gabriel mengaku sudah meminta bantuan pada Kementerian Luar Negeri, namun belum ada kepastian keberadaan anaknya.

"Karena itu, kami minta Pak Jokowi tolong bantu pulangkan anak kami," ujarnya.

Ketua Dewan Pembina PADMA Indonesia Gabriel Goa mengatakan pihaknya merasa prihatin dengan masalah yang dihadapi keluarga.

“Karena tidak percaya Polri, keluarga korban langsung surati Presiden Mauritius dan Sri Paus”, demikian Gabriel Goa, pendamping hukum korban dari PADMA Indonesia.*

Posting Komentar untuk "Keluarga ABK Asal NTT yang Hilang di Perairan Mauritius Surati Paus Fransiskus"