Kaburea Diusulkan Jadi Calon Ibukota Provinsi Flores - Graha Budaya
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kaburea Diusulkan Jadi Calon Ibukota Provinsi Flores

Pulau Kinde di Kaburea, Wolowae.

GRAHA BUDAYA -- Wacana pembentukan Provinsi Flores, atau yang kini diperluas menjadi Provinsi Kepulauan Flores (PKF) telah berlangsung selama hampir tujuh dekade.

Wacana pembentukan Provinsi Flores dimulai sejak tahun 1950-an, bersamaan dengan pembentukan Provinsi NTT. Namun seiring bergulirnya waktu, wacana tersebut belum terealisasi hingga kini.

Penundaan pembentukan Provinsi Flores yang terpisah dari provinsi induknya, NTT, itu bukan tanpa hambatan. Para elit politik lokal cenderung menggunakan isu politik atau mempolitisasi wacana pembentukan Provinsi Flores untuk kepentingan mereka atau kelompoknya.

Baca juga: Cerita Rakyat Nagekeo: Dedu dan Ngode

Ego sektoral masing-masing daerah juga menciptakan gesekan yang kemudian memicu konflik kepentingan tiap pimpinan daerah. Tidak hanya itu, intervensi segelintir elit di tingkat nasional juga ikut memadamkan semangat pembentukan Provinsi Flores.

Di antara kepentingan politik tersebut, yang paling mengemuka adalah isu penentuan ibu kota Provinsi Flores. Dari beberapa kongres rakyat Flores yang dilakukan, setidaknya ada tiga ibukota yang diusulkan yaitu Mbay, Ende, dan Maumere. Ketiganya letak berdekatan bagai segitiga. Satunya di pesisir selatan dan dua lainnya terletak di pesisir utara Pulau Flores.

Dalam tulisannya pada Jumat (3/6) lalu, Adrianus Jehamat, Ketua Umum P4KF sekaligus Ketua Organisasi Pengawasan Rakyat (OPR) mengatakan usulan ketiga calon ibukota Provinsi Flores tersebut disepakati dalam Musyawarah Besar Orang Flores (Mubes Orang Flores) yang berlangsung di Ruteng pada 31 Oktober hingga 2 November 2003.

Baca juga: Fakta-fakta Menarik tentang Flores dan Orang-orangnya

Peserta mubes tersebut berjumlah kurang lebih sebanyak seribu utusan dari berbagai komponen dari tujuh kabupaten di Pulau Flores saat itu yakni Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, dan Manggarai Barat. Mubes menghendaki agar letak ibukota Provinsi Flores berada di tengah-tengah Pulau Flores.

Untuk memastikan satu dari tiga opsi calon ibukota Provinsi Flores ini maka Mubes menyepakati untuk ditentukan berdasarkan voting oleh tujuh orang Bupati sebagai representasi masyarakat dari tujuh kabupaten di Kepulauan Flores saat itu, terutama yang menjadi delegasi setiap kabupaten yang hadir dalam Mubes Orang Flores 2003.

Berdasarkan voting oleh tujuh Bupati diperoleh hasil dengan skor imbang 3:3 untuk Maumere dan Mbay. Satu-satunya penentu akhir saat itu adalah pilihan dari Bupati Ende Paulinus Domi.

Baca juga: Max Weber Sebut Orang Flores Punya Bakat Musik Lebih Tinggi dari Suku Lain di RI

Seandainya Bupati Ende menjatuhkan pilihannya ke Maumere atau Mbay dan sebaliknya maka skor akhir menjadi 4:3 dan dengan begitu sudah ada kepastian calon tunggal ibukota dari tiga opsi.

Dengan adanya kepastian calon ibukota Flores maka sebenarnya Provinsi Flores sudah lahir tahun 2003. Sebab, proses usulan pembentukan provinsi saat itu masih merujuk pada UU Nomor 22 /1999 tentang Otda. dengan aturan pelaksananya PP 129. 

Dalam UU ini persyaratan usulan pembentukan calon DOB/CDOB tidaklah serumit regulasi pengganti regulasi terdahulu yakni dari UU 22/1999 dg aturan pelaksananya PP 129/2000 ke UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, dengan aturan pelaksananya PP 78/2007 tentang Tata Cara Pembentukan Penghapusan dan Penggabungan Daerah, dan terakhir berubah lagi sebagaimana diatur dalam UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Namun sangat disayangkan, Bupati Paulinus Domi saat itu justru memilih untuk abstain sehingga skor akhir tetap imbang 3:3.

"Abstainnya Bupati Ende saat itu merupakan bagian dari trik untuk menggagalkan upaya bersama membentuk Provinsi Flores sebagai pemekaran dari Provinsi NTT," kata Adrianus.

Baca juga: Seminari Tinggi Ledalero Maumere Jadi Seminari Terbesar Dunia

Dia menilai trik ini datang dari segelinti elit politik Flores yang tidak menghendaki Flores jadi provinsi karena secara politis akan sangat mengganggu kenyamanan  hidup segelintir elit dimaksud yang sudah mendapatkan posisi bagus dalam Pemerintahan Provinsi NTT. 

Menurut mereka, pembentukan Provinsi Flores tentu saja bukan hal baik bagi kelompok yang sudah terlanjur mapan dan nyaman secara sosial politik dan ekonomi ygan tercipta dari keberadaan Pemerintahan Provinsi NTT.

Hal ini terungkap dari pernyataan Gubernur NTT Piet A. Tallo sebagaimana dilansir Koran Tempo 2013. Bahwa Provinsi Flores sesungguhnya sebuah kebutuhan dalam rangka percepatan pembangunan dan pendekatan pelayanan publik. Namun mendapatkan penilaian dari segelintir elit Politik Flores itu sendiri demi mengamankan posisi politik mereka.

Adrianus menandaskan bahwa tarik-menarik kepentingan politik inilah yang mendorong pembentukan Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Flores (P2KF) oleh OPR pada 8 Mei 2013 di Ruteng. Forum ini terdiri dari 10 kabupaten mulai Manggarai Barat hingga Alor.

Baca juga: Jalan Trans Flores Sepanjang 180 KM Diproyeksi Rampung Tahun Ini


Kaburea sebagai 'Titik Kompromi'

Adrianus mengatakan dalam safari yang dilakukan P4KF sejak tahun 2015-2015, forum P4KF menemukan ada kesepakatan untuk menjadikan Kaburea di Kecamatan Wolowae, Nagekeo sebagai "titik kompromi" calon ibukota Provinsi Flores yang dinilai strategis.

Kaburea berada di dataran-pesisir utara Pulau Flores, berbatasan langsung dengan Kabupaten Ende di bagian utara. Kaburea berjarak sekitar 20 kilometer ke ibukota Nagekeo, Mbay. Kaburea juga dekat dengan Ende, sekitar 60 kilometer dan Maumere, yang berjarak sekitar 70 kilometer.

Dataran rendah Kaburea memanjang hingga ke wilayah Ratesuba, Mukusaki, dan Maurole di Kabupten Ende. Orang sering menyebut kawasan ini dengan Pantura (Pantai Utara).

Secara topogarafis, kawasan sangat cocok untuk menjadi pusat pemerintahan karena wilayah datarannya yang cukup luas. Namun dari aspek pembangunan, wilayah ini sering diabaikan. Terutama di wilayah Pantura Ende, infrastruktur jalan sangat memprihatinkan.

Kaburea, atau secara kultural disebut Toto-Wolowae, merupakan salah satu kawasan yang belakangan ini mulai muncul seiring perhatian pemerintah pada destinasi wisata Pulau Kinde.

Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo Flores telah memasukkan Pulau Kinde sebagai jalur sutra wisata tematik di Pulau Flores, yang terhubung dengan Labuan Bajo.

Secara historis, Kaburea adalah wilayah terakhir yang ditaklukan Belanda. Perang Watuapi yang terjadi pada tahun 1917 adalah perang terakhir di Pulau Flores. Dari Toto ini pula lahir salah satu pahlawan perang yaitu Nipa Do. Kuburnya terletak sekitar 20 kilometer dari Kampung Kobakua.

Di masa lalu, Toto merupakan salah satu kekuatan politik yang hampir tidak bisa dikalahkan Belanda. Penguasa kolonial gagal membentuk 'kerajaan boneka' di wilayah ini. 

Untuk menguasai wilayah ini, Belanda memecah kerajaan Toto, yang sebelumnya terintegrasi dengan Tanajea, menjadi dua. Satunya ke Swapraja Ngada (Toto) dan lainnya ke Swapraja Ende (Tanajea).

Di Kaburea, terdapat lahan aset Provinsi NTT seluas 50 Hektare (Ha). Bupati Ende saat itu sepakat untuk menjadikan lahan 50 Ha milik pemerintah untuk dijadikan lokasi ibukota Provinsi Flores.

Menurut dia, Kaburea merupakan "titik kompromi" antara Maumere-Ende-Mbay yang menjadi tiga calon ibukota Provinsi Flores di Mubes 2003.

"Cukuplah Saya yang menunjukan hal yang tidak positif terhadap upaya bersama membentuk PKF. Kalau dulu saya tidak ego soal calon ibukota maka sesungguhnya Flores sudah jadi provinsi 2003. Sebab saat itu aturannya tidak seketat saat ini," kata Bupati Domi.

Adrianus menerangkan bahwa sinyal penentuan ibukota Provinsi Flores kembali digaungkan oleh Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat baru-baru ini. Dalam sebuah kesempatan, Viktor mengatakan dia lebih setuju jika Lembata dijadikan ibukota Provinsi Flores.

"Selanjutnya para pengambil keputusan di 9 kabupaten di Kepulauan Flores tinggal memilih apakah Menyetujui pilihan Gubernur atau punya pilihan sendiri terhadap ibukota PKF," ungkap pria yang disapa Adam ini.*

Posting Komentar untuk "Kaburea Diusulkan Jadi Calon Ibukota Provinsi Flores"